Tata Surya

A.  Benda Langit Penyusun Tata Surya



Tata surya adalah susunan benda-benda langit yang terdiri atas matahari sebagai pusatnya dan planet-planet, meteorid, komet, serta asteroid yang mengelilingi matahari.

 

1.    Matahari

·      Merupakan pusat tata surya

·      Jarak matahari dari bumi sekitar 150 juta km

·      Ukuran matahari

    1. Diameter 1.373.400 km
    2. Jari-jari sekitar 6,87 × 105 km
    3. Volume sekitar 1,358 × 1027 m3.
    4. Luas permukaan sekitar 5,93 × 1012 km2.

 

·      Struktur matahari terdiri atas:

a.  Inti Matahari

-     Lapisan matahari yang paling dalam

-     Memiliki suhu sekitar 15.000.000 K.

-     Terjadi reaksi fusi (penggabungan)

b.  Fotosfer

-     Merupakan bagian matahari yang dapat kita lihat

-     Memiliki suhu sekitar 6.000 K dengan ketebalan 300 km

c.  Kromosfer

-     Termasuk lapisan atmosfer matahari

-     Memiliki suhu sekitar 4500 K dengan ketebalan 2000 km

-     Terlihat jelas dari bumi saat terjadi gerhana matahari total

-     Terlihat sebagai cincin berwarna kemerah-merahan

d.  Korona

-     Merupakan lapisan terluar matahari

-     Terlihat sebagai mahkota berwarna putih saat terjadi gerhana matahari total

-     Memiliki suhu hingga mencapai 1.000.000 K dengan ketebalan 700.000 km

 

·      Gangguan pada matahari

a.  Gumpalan Fotosfer (Granulasi), terjadi karena gas panas merambat dari inti matahari ke permukaan. Akibatnya, permukaan matahari tidak rata (bergumpal-gumpal).

b.  Bintik Matahari (Sunspot)

-     Merupakan daerah tempat munculnya medan magnet yang sangat kuat.

-     Berbentuk lubang-lubang di permukaan matahari di mana gas panas menyembur dari dalam inti matahari sehingga dapat mengganggu telekomunikasi gelombang radio.

c.  Lidah Api (Prominensa)

-     Merupakan hamburan gas dari tepi kromosfer matahari.

-     Dapat mencapai ketinggian 10.000 km.

d.  Letupan (Flare)

-     Merupakan letupan-letupan gas di atas permukaan matahari.

-     Dapat menyebabkan gangguan sistem komunikasi radio

e. Badai Matahari, terjadi saat adanya pelepasan energi magnetik di atmosfer matahari.

 

2.    Planet

  • Merupakan benda langit yang tidak dapat memancarkan cahaya sendiri dan hanya memantulkan cahaya yang diterimanya dari bintang.
  • Garis edar planet mengelilingi matahari berbentuk elips
  • Titik orbit planet terdekat ke matahari disebut perihelium dan titik terjauh disebut aphelium.
 

Pengelompokkan Planet

a.  Berdasarkan letak terhadap orbit asteroid

1) Planet dalam, terletak di dalam garis edar asteroid mengitari bumi, yakni Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

2) Planet luar, terletak di luar garis edar asteroid mengitari matahari, yakni Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

b.  Berdasarkan ukuran dan komposisi penyusunnya

1) Planet terestrial yaitu planet yang letaknya dekat dengan matahari, berukuran kecil, memiliki sedikit satelit atau tidak sama sekali, berbatu, dan sebagian besar terdiri atas mineral tahan api. Planet ini terdiri atas Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

2)  Planet Jovian yaitu planet yang letaknya jauh dari matahari, berukuran besar, memiliki banyak satelit, dan sebagian besar tersusun dari bahan ringan. Planet ini terdiri atas Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

c.   Berdasarkan orbit bumi

1)  Planet inferior yaitu planet yang letaknya di dalam garis edar bumi mengitari matahari, meliputi Merkurius dan Venus.

2)  Planet Superior yaitu planet yang letaknya di luar garis edar bumi mengitari matahari, meliputi Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus.

 

Karakteristik Planet

1)    Merkurius

  • Berwarna abu-abu
  • Terdiri atas 70% logam dan 30% silikat
  • Memiliki diameter sekitar 4.879 km
  • Memiliki jarak sekitar 58 juta km dari matahari
  • Planet terdekat dari Matahari
  • Planet terkecil dalam tata surya
  • Tidak memiliki satelit dan cincin
  • Memiliki waktu revolusi tercepat dalam tata surya
  • Waktu rotasi 59 hari dan waktu revolusi 88 hari
  • Pada bagian yang menghadap matahari suhunya mencapai 430 oC dan bagian yang membelakangi Matahari bersuhu 180 oC

 

2)    Venus

  • Disebut bintang fajar atau bintang senja
  • Berwarna putih kekuningan
  • Merupakan planet paling cerah
  • Memiliki diameter 12.104 km
  • Memiliki jarak 108 juta km dari matahari.
  • Memiliki suhu rata-rata tertinggi, yaitu 462oC
  • Arah rotasi berlawanan dari planet lainnya
  • Memiliki bentuk, ukuran dan komposisi yang hampir sama dengan Bumi
  • Tidak memiliki satelit dan cincin
  • Memiliki waktu rotasi terlama dan satu-satunya planet yang mempunyai waktu rotasi lebih lama dari waktu revolusi.
  • Waktu rotasi 243 hari dan waktu revolusi 225 hari.

 

3)    Bumi

  • Berwarna biru kehijauan
  • Satu-satunya planet yang dihuni oleh makhluk hidup
  • Merupakan planet paling padat dalam tata surya
  • Memiliki diameter 12.742 km
  • Komposisi: 78% nitrogen, 21% oksigen, dan gas-gas lainnya
  • Permukaan bumi  terdiri atas 70% perairan dan 30% daratan
  • Mempunyai jarak sekitar 150 juta km dari matahari
  • Memiliki satu satelit
  • Tidak memiliki cincin
  • Waktu rotasi 24 jam dan waktu revolusi 365 hari.
  • Memiliki suhu rata-rata 15oC, tetapi terasa lebih panas yaitu 33oC

 

4)    Mars

  • Disebut planet merah
  • Merupakan planet terkecil kedua dalam tata surya
  • Komposisi: 95% karbondioksida, 3% nitrogen dan gas-gas lainnya
  • Memiliki diameter sekitar 6.779 km
  • Memiliki jarak 218,54 juta km dari matahari
  • Memiliki suhu rata-rata 13,85 oC
  • Memiliki 2 satelit alami (Phobos dan Deimos)
  • Tidak memiliki cincin
  • Waktu rotasi 25 jam dan waktu revolusi 687 hari.

 

5)    Yupiter

  • Merupakan planet terbesar dalam tata surya
  • Terdiri atas 89% hidrogen dan 10% helium
  • Warnanya berlapis-lapis kombinasi antara orange dan putih
  • Memiliki jarak sekitar 776,43 juta km dari matahari
  • Memiliki diameter 139.820 km
  • Memiliki jumlah satelit alami terbanyak 79 satelit. 
  • Mempunyai cincin
  • Waktu rotasi paling cepat
  • Waktu rotasi 10 jam dan waktu revolusi 11 tahun.
  • Memiliki suhu rata-rata permukaan 108,15 oC

 

6)    Saturnus

  • Berwarna kuning pucat
  • Terdiri atas 96% hidrogen sebagai komponen terbesarnya
  • Memiliki jarak 1,4 miliar km dari matahari.
  • Memiliki diameter sekitar 116.460 km
  • Memiliki 62 satelit alami, termasuk Titan dan Rhea
  • Memiliki cincin besar dari bongkahan es.
  • Waktu rotasi 11 jam dan waktu revolusi 29 tahun.
  • Memliki suhu rata-rata –139,15oC

 

7)    Uranus

  • Berwarna biru muda
  • Mempunyai jarak sekitar 2,9 miliar km dari matahari
  • Memiliki diameter 50.724 km
  • Memiliki 27 satelit alami
  • Memiliki cincin secara vertikal
  • Waktu rotasi 17 jam dan waktu revolus 84 tahun.
  • Merupakan planet yang memiliki suhu terendah dan terdingin yaitu  –224°C

 

8)    Neptunus

  • Planet berwarna biru
  • Memiliki jarak 4,4 miliar km dari matahari.
  • Memiliki diameter sekitar 49.224 km
  • Memiliki suhu rata-rata –214oC
  • Mempunyai 14 satelit alami
  • Memiliki cincin
  • Merupakan planet dengan waktu revolusi terlama dalam tata surya.
  • Waktu rotasi 16 jam dan waktu revolusi 165 tahun.

 

3.    Komet

  • Komet adalah benda langit yang mengelilingi matahari dengan orbit yang sangat lonjong.
  • Terdiri atas debu dan gas beku seperti es
  • Bagian-bagian komet, yaitu:

a.  inti komet, yaitu bagian komet yang berukuran kecil, padat tersusun dari debu dan gas.

b.  koma, yaitu daerah kabut di sekitar inti.

c. ekor komet, yaitu bagian yang berukuran lebih panjang. Arah ekor komet selalu menjauhi matahari disebabkan adanya dorongan yang berasal dari radiasi dan angin matahari.

 

4.    Asteroid

  • Disebut juga planetoid atau planet kerdil.
  • Merupakan potongan-potongan batu yang mirip dengan materi penyusun planet
  • Sebagian besar terletak di antara Mars dan Yupiter.
  • Asteroid terbesar adalah Ceres dengan diameter 770 kilometer.
  • Sekumpulan asteroid disebut sabuk asteroid.

 

5.    Meteoroid, Meteor, dan Meteorit

  • Meteoroid adalah batuan-batuan kecil yang sangat banyak dan melayang-layang di luar angkasa
  • Meteor adalah meteoroid yang habis terbakar oleh atmosfer bumi
  • Meteorit adalah meteoroid yang tidak habis terbakar dan jatuh ke bumi

 

6.    Satelit

  • Merupakan benda langit yang mengelilingi planet
  • Setiap planet mempunyai satelit, kecuali Merkurius dan Venus


Tanah dan Kebelangsungan Kehidupan



Tanah merupakan tempat hidup bagi berbagai makhluk hidup, termasuk tempat hidup bagi tumbuhan. Tumbuhan misalnya pohon jeruk tidak mampu berpindah-pindah untuk mencari kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, tanah harus dapat menyediakan segala keperluan hidup bagi pohon jeruk tersebut, sehingga dapat terus tumbuh dan menghasilkan buah agar dapat kita nikmati. Tumbuhan memerlukan unsur hara atau nutrisi pada tanah yang berupa mineral-mineral dan air yang terkandung dalam tanah. Beberapa tumbuhan, misalnya tanaman polong-polongan dan kacang-kacangan membutuhkan bakteri yang ada di tanah. Bakteri tersebut berfungsi membantu akar dalam melakukan penyerapan dan pengolahan zat hara


A.  Peran Tanah bagi Kehidupan

Berbagai jenis makhluk hidup memilih daratan atau tanah sebagai tempat tinggal dan berteduh. Sebagai contoh adalah tumbuhan yang tidak bisa berpindah-pindah dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tumbuhan sangat membutuhkan nutrisi dan zat hara yang terkandung di dalam tanah. Bahkan, bagi tumbuhan dari kelompok polong-polongan membutuhkan peran bakteri di dalam tanah untuk membantu akar dalam proses penyerapan dan pengolahan zat hara.

1. Tempat Hidup Hewan dan Bakteri

Salah satu fungsi besar tanah adalah sebagai penyedia tempat hidup bagi berbagai macam hewan serta bakteri. Jenis hewan seperti semut, lipan, cacing, dan serangga kecil lainnya ditambah lagi dengan beberapa bakteri dengan ukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Jumlahnya ada bermiliar-miliar yang memilih untuk hidup di atas tanah maupun di dalam tanah.

1)  Hewan Tanah

Dalam tanah terdapat beberapa jenis hewan tanah yang dapat dibedakan menjadi makrofauna tanah dan mikrofauna tanah.

a) Makrofauna Tanah

Makrofauna tanah merupakan hewan tanah yang berukuran besar dan dapat diamati secara langsung. Beberapa hewan kelompok makrofauna tanah yaitu Annelida (misal cacing tanah), Mollusca (misal bekicot), Myriapoda (misal Spirobolus sp.), dan Insecta (misal semut).

b)   Mikrofauna Tanah

Mikrofauna tanah terdiri atas hewan-hewan yang berukuran sangat kecil. Mikrofauna yang sering ditemukan pada tanah adalah Nemathelminthes (cacing gilig). Nemathelminthes memiliki tubuh silindris bulat memanjang.

2)      Mikroorganisme Tanah

Mikroorganisme tanah merupakan organisme berukuran sangat kecil dalam tanah yang tidak dapat diamati secara langsung tanpa alat bantu. Mikroorganisme yang hidup di tanah, seperti bakteri (Rhizobiumi, Nitrosomonas, Nitrosococcus, dan Nitrobacter) serta Proista (Flagellata, Amoeba, dan Ciliata)

2.  Penunjang Kesehatan dan Penyedia Keperluan Manusia

Banyak kegiatan manusia yang melibatkan peran dari tanah, seperti aktivitas bermain sepak bola dan kelereng. Bahkan hanya dengan melakukan jalan atau lari di atas tanah. Rumah sebagai tempat tinggal dan rumah sakit sebagai tempat perawatan bagi pasien yang sakit dan berobat pun juga dibangun di atas tanah. Manusia menggunakan berbagai jenis tanah sebagai bahan bangunan, barang kerajinan, dan perabotan rumah tangga.

3.  Penyedia dan Penyaring Air

Sumber utama air terletak di dalam tanah. Agar dapat memperoleh air tanah, usaha yang dilakukan adalah dengan menggali tanah sampai pada kedalaman beberapa meter untuk membuat sumur guna memenuhi kebutuhan minum, mandi, mencuci, dan memasak. Di dalam tanah juga terdapat bakteri sebagai mikroorganisme yang mampu menguraikan senyawa kompleks berbahaya menjadi senyawa yang lebih sederhana yang ramah terhadap lingkungan.

 

B.   Peran Organisme Tanah

Terdapat sekitar miliaran jumlah dari organisme tanah. Pada umumnya, organisme tanah berada pada lapisan tanah bagian atas (10 cm di bawah permukaan tanah). Ada 80-100% aktivitas biologis yang terjadi di tanah yang dilakukan oleh hewan, jamur, dan mikroorganisme yang mampu mempengaruhi tingkat kesuburan atau kegemburan serta tekstur dari tanah. Berikut ini beberapa peran organisme tanah.

1.  Dekomposer dan Detrivor

Fungsi dekomposer adalah melakukan dekomposisi atau kegiatan menguraikan bahan-bahan organik yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun, ranting, dan jasad hewan dan manusia yang diurai menjadi bahan anorganik. Proses pelapukan batuan juga dibantu oleh dekomposer untuk diubah menjadi bahan anorganik atau mineral tanah. Bahan anorganik akan menjadi unsur hara yang dimanfaatkan oleh tumbuhan. Organisme dekomposer umumnya merupakan mikroorganisme yang menguraikan bahan-bahan organik yang sebelumnya telah diuraikan oleh organisme detrivor. Organisme yang termasuk decomposer adalah bakteri dan jamur. Detrivor merupakan organisme yang memakan sisa-sisa bahan organic (detritus). Detritus merupakan hancuran jaringan makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan. Contoh organisme detrivor yaitu siput, luing, dan cacing tanah.

2.  Pereaksi Kimia dalam Tanah

Bakteri Nitrobacter berperan dalam reaksi penguraian materi organik kompleks yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup menjadi senyawa nitrat yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Ada juga mikoriza yang merupakan jamur yang melakukan simbiosis dengan tumbuhan dalam rangka meningkatkan kemampuan tumbuhan untuk menyerap fosfor sebagai salah satu unsur hara penting. Selain itu, terdapat bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan dalam tanah dan berperan dalam mengikat nitrogen.

3.  Pengurai Polutan dalam Tanah

Beberapa organisme tanah dapat menguraikan polutan yang masuk ke dalam tanah, misalnya herbisida. Proses penguraian herbisida dapat dilakukan secara cepat apabila aktivitas organisme tanah semakin tinggi. Polutan seperti merkuri dan arsenik dapat terkunci di dalam tanah karena terakumulasi dalam tubuh bakteri sehingga tidak menyebabkan polusi bertambah lebih memperihatinkan.

4.  Pencegah Penyakit Tanah

Saat tanah mempunyai jumlah senyawa organik dan aktivitas organisme yang tinggi, maka secara otomatis organisme tanah mampu melawan penyakit tanah. Kondisi tersebut tercipta jika kegiatan pertanian serta perkebunan tidak berlebihan atau dengan kata lain tidak memakbahan kimia sebagai pupuk maupun pestisida. Karena sebenarnya organisme tanah sendiri mampu melakukan pengendalian biologis yang terjadi di dalam tanah secara alamiah.

5.  Pemberi Pengaruh pada Tekstur

Tekstur tanah adalah besar kecilnya ukuran butiran yang menjadi penyusun tanah. Tanah mempunyai ukuran butiran berbeda yang terdiri atas tanah liat, tanah lempung, dan pasir atau campuran dari ketiganya. Pembentukan tekstur tanah tidak lepas dari peranan organisme, s eperti cacing dan akar tumbuhan yang dapat mempercepat proses pemecahan batuan menjadi butiran-butiran tanah tersebut. Ketiga kelompok tanah tersebut memiliki sifat atau ciri yang berbeda. Sifat dari tanah, tentu akan mempengaruhi kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi dan air bagi tumbuh-tumbuhan. Tanah subur mempunyai perpaduan dari ketiga jenis kelompok tanah dengan perbandingan yang hampir sama.

6.  Pengatur Kegemburan dan Struktur Tanah

Struktur tanah ialah susunan butiran-butiran tanah yang menjadi terikat satu sama lainnya untuk membentuk sebuah gumpalan. Struktur tanah juga memiliki hubungan erat dengan kegemburan tanah. Organisme yang hidup di dalam tanah dapat membuat pori-pori tanah sehingga membantu menggemburkan tanah serta memungkinkan proses keluar masuknya udara ke dalam tanah (aerasi).

 

C.    Proses Pembentukan Tanah dan Komponen Penyusun Tanah

1.  Proses Pembentukan Tanah

Tanah adalah campuran dari batuan lapuk, penguraian bahan organik, mineral, serta air dan udara. Dengan kata lain tanah terbentuk karena adanya faktor pelapukan kimiawi, biologis, dan fisikawi. Untuk faktor fisiknya adalah pengaruh iklim, curah hujan, dan sinar matahari. Sedangkan untuk faktor biologisnya karena aktivitas mikroorganisme tanah atau akar tumbuhan yang juga mampu membantu pelapukan batuan secara kimiawi dengan mengeluarkan zat asam.

Faktor yang mempengaruhi pelapukan, antara lain iklim, sinar matahari, curah hujan, mikroorganisme tanah, jenis vegetasi tumbuhan tipe batuan, topografi atau relief tanah suatu daerah, waktu.

Pada saat dilakukan penggalian tanah sampai dalam, maka akan tampak beberapa lapisan tanah atau yang disebut sebagai horizon tanah yang ditunjukkan dengan gradiasi warna yang berbeda seperti pada gambar berikut ini.

Lapisan-lapisan tanah (Horizon tanah), antara lain

    • Horizon A: lapisan teratas yang terdiri atas campuran dari pelapukan batuan dengan berbagai tekstur, organisme hidup, dan zat organik.
    • Horizon B: lapisan yang memiliki kandungan zat organik lebih sedikit dibandingkan lapisan di atasnya.
    • Horizon C: lapisan yang tersusun atas batuan, yang berperan sebagai penyedia utama material untuk tanah bagian paling atas.

Sumber: https://imgix2.ruangguru.com/assets/miscellaneous/png_kbmjoq_3044.png


Bagian tanah paling atas merupakan daerah tumbuhan untuk mendapatkan nutrisi yang berupa air dan mineral. Tetapi kelemahannya, pada bagian tanah paling atas rentan terjadi kehilangan kandungan nutrisi serta mineral akibat beberapa kejadian alam, seperti hujan dan banjir, terutama jika tidak ada tumbuhan yang hidup di atas tanah tersebut.

 

2.   Jenis-jenis tanah

Berdasarkan teksturnya, tanah dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Jenis tanah ditentukan berdasarkan jumlah partikel penyusun yang paling banyak terdapat pada tanah tersebut. Partikel yang terdapat dalam tanah adalah pasir, liat, dan debu. Berikut klasifikasi tekstur tanah berdasarkan ukuran partikel: 


Tekstur tanah merupakan besar kecilnya ukuran partikel yang menyusun tanah atau ukuran proporsi relatif yang menyusun tanah. Tanah memiliki ukuran partikel berbeda-beda, sehingga dapat digolongkan menjadi tanah lempung, tanah liat, pasir, dan tanah campuran dari ketiganya. 

Jenis tanah diberi nama berdasarkan ukuran partikel utama atau kombinasi dari ukuran partikel yang paling melimpah. Contohnya, tanah liat berpasir dapat dibuat menjadi pita yang tipis, panjang dan terasa berpasir sehingga kita dapat mengetahui bahwa tanah tersebut tersusun atas tanah liat dan pasir. 

Pembentukan tekstur tanah dibantu oleh organisme seperti cacing atau akar tumbuhan yang mampu mempercepat pemecahan partikel-partikel tersebut dari batuan. Akar tumbuhan mampu menembus batuan karena mengeluarkan zat asam sehingga secara kimiawi dapat membatu pelapukan batuan. Tanah dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan teksturnya yang juga mempengaruhi sifat-sifatya.

    • Tanah pasir memiliki tekstur berbutir sehingga memiliki porositas tinggi, kurang dapat menyimpan atau menahan air karena air mudah mengalir melewati celah-celah cukup besar. 
    • Tanah liat tersusun atas partikel-partikel sangat kecil sehingga tanah liat dapat menyimpan air lebih lama, hal ini dapat dilihat dari pergerakan atau aliran air lambat ketika tanah liat diberi air. Sifat tanah mempengaruhi kemampuannya dalam menyediakan nutrisi dan air yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan di atasnya. 
    • Tanah lempung adalah tanah yang terdiri atas campuran pasir, tanah liat, dan debu dengan jumlah hampir sama. 
    • Perbedaan antara tanah liat dan lempung yaitu tanah liat merupakan tanah lentur, sulit ditembus air, berwarna lebih terang dari lempung; tidak banyak campuran pasir dan batuan kecil; dimanfaatkan sebagai bahan utama produk gerabah dan keramik.

 

3.  Komponen Tanah

Tanah merupakan bagian dari permukaan bumi yang tidak hanya terdiri dari satu komponen, melainkan banyak komponen yang bersifat sebagai penyusun atau pendukung dari tanah. Seperti contoh batuan, udara, humus, humus, air, mineral, serta komponen organik yang akan dibahas secara lebih mendalam pada ulasan berikut ini.

a.  Batuan

Batuan merupakan bahan padat yang terbentuk secara alamiah yang tersusun atas campuran beberapa mineral dan senyawa lain dalam berbagai komposisi. Ahli geologi membagi batuan menjadi tiga jenis berdasarkan proses terjadinya yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf. Batuan juga dapat berasal dari magma gunung berapi yang mendingin. Batuan kemudian mengalami proses pelapukan dan menjadi komponen penyusun tanah.

b.  Udara

Meskipun tanah terlihat padat, tetapi terdapat rongga-rongga yang berisi udara ada di dalam tanah. Rongga udara dapat terletak di antara butiran-butiran tanah, di antara bebatuan yang terdapat di dalam tanah, di antara batuan dan butiran tanah, di antara butiran tanah dengan akar tumbuhan, dan di antara akar tanaman dengan batu. Selain itu, aktivitas hewan, seperti cacing tanah dapat menyebabkan terbentuknya rongga udara.

c.  Humus

Humus merupakan komponen organik yang berasal dari proses dekomposisi jasad makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan, daun yang gugur, serta kotoran hewan oleh bakteri dan jamur. Humus sering dikaitkan sebagai tanah yang mempunyai tekstur gembur serta banyak pori yang memungkinkan terjadinya pertukaran udara. Tanah humus yang mengandung banyak nutrisi dan mineral ini mampu mempertahankan air tanah agar tetap dalam kondisi lembab.

d.  Air

Tanah menjadi tempat hidup bagi berbagai makhluk hidup seperti bakteri, cacing, jamur, tumbuhan, dan serangga yang secara umum membutuhkan kelembapan tanah sebagai faktor penting untuk bertahan hidup. Kelembapan tanah tersebut disebabkan oleh adanya air di dalam tanah. Misalnya, proses penyerapan air yang dilakukan oleh tumbuhan setelah air dapat menembus tanah serta mencapai akar.

e.  Mineral

Asal tanah adalah dari proses pelapukan batuan dan kerak bumi yang memiliki tebal sekitar 10-15 km atau lebih. Di dalam kerak bumi banyak terkandung mineral berupa ion-ion positif dan negatif. Beberapa contoh ion positif yang ada di dalam tanah, seperti kalium (K+) dan magnesium (Mg2+). Sedangkan untuk contoh ion-ion negatifnya yaitu nitrat (NO3) dan sulfat (SO42-). Ion-ion inilah yang menjadi nutrisi penting bagi pertumbuhan dari tanaman yang diserap melalui akar tanaman. Setiap tanah memiliki kandungan atau kadar mineral yang berbeda-beda yang dapat menentukan sifat atau karakter suatu tanah yang berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah. Walaupun sebenarnya tanah yang subur tidak hanya ditentukan oleh jumlah kandungan mineral yang terkandung di dalamnya.

Faktor lainnya yang dapat dijadikan sebagai indikator tingkat kesuburan tanah ialah warna tanah jika dilihat dari segi fisika serta derajat keasaman atau tingkat pH tanah apabila dipandang dari segi kimiawinya. Tanah yang subur memiliki pH sekitar 7 atau yang bersifat netral. Sebab pada kisaran pH tersebut, tumbuhan mampu menyerap nutrisi secara optimal. Dalam segi warna, semakin gelap warna tanahnya maka semakin tinggi kandungan komponen organik di dalam tanah. Warna tanah yang gelap dapat menyerap dan melepaskan panas dengan lebih cepat jika dibandingkan dengan warna tanah yang terang. Hal tersebut menyebabkan ketika siang hari, kandungan air pada tanah yang gelap akan lebih cepat menguap sehingga tanah menjadi kering. Sedangkan pada malam hari, tanah yang gelap akan cepat melepaskan panas sehingga mempercepat terjadinya kondensasi uap air dan membuat lebih mudah dan cepat dalam menyerap air kembali. Keadaan kondisi tanah yang seperti itulah yang membuat pengaruh secara tidak langsung pada level kesuburan tanah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa warna tanah juga ikut mempengaruhi suhu dan kelembapan tanah yang nantinya berdampak pada pertumbuhan tanaman, aktivitas organisme tanah, serta struktur tanah.

f.  Komponen Organik

Banyak organisme yang juga hidup di dalam tanah, seperti jamur, bakteri, alga, serangga, dan cacing tanah. Peran organisme tersebut adalah menguraikan bahan-bahan yang berasal dari sisa makhluk hidup sehingga dapat menghasilkan material yang bersifat organik dan menguntungkan di dalam tanah bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup yang tinggal di bumi ini.

 

D.  Upaya Menjaga Kelestarian Tanah

Apabila manusia tidak mengolah tanah dengan benar dapat menyebabkan hilangnya mineral penting dalam tanah. keberadaan organisme tanah akan terganggu, dan menimbulkan berbagai kerusakan krusial terhadap tingkat kesuburan tanah. Akibatnya, kualitas tanah menurun. Sebagai contoh ialah peristiwa erosi yang dapat menghilangkan nutrisi tanah, penggunaan pupuk kimia berlebihan, pertanian monokultur dalam jangka waktu lama, serta pencemaran tanah yang disebabkan oleh sampah anorganik yang sulit terurai. Berikut ini adalah berbagai upaya pencegahan demi menjaga tanah supaya tetap lestari.

1.  Pengelolaan Tanah Menggunakan Tanaman Penutup Tanah

Fungsi keberadaan dari penutup tanah ialah supaya air hujan dapat tertahan sehingga tidak secara langsung dapat mengenai permukaan tanah. Dengan begitu, pengikisan tanah atau erosi dapat berkurang dan tentunya produktivitas tanah tetap dapat dipertahankan karena biasanya erosilah yang membuat nutrisi serta nutrisi penting yang berada di dalam tanah hilang karena terbawa oleh aliran air.

Pengolahan lahan juga perlu dilakukan agar kemungkinan terjadinya erosi menjadi rendah yaitu dengan cara pembuatan terasering atau lahan miring sebagai pengubah permukaan tanah miring menjadi tanah yang bertingkat-tingkat. Tujuannya adalah untuk mengurangi panjang lereng serta memperkecil kemiringan lereng sehingga akan mampu memperlambat aliran air permukaan sekaligus menampung dan mengalirkan aliran air permukaan tersebut supaya dapat terserap oleh tanah.

2.  Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia

Penggunaan pupuk kimia dengan takaran dan pada waktu yang tepat sudah pasti dapat meningkatkan hasil produksi pertanian karena senyawa yang ada di dalam pupuk kimia tersebut dapat diserap secara langsung oleh tumbuhan. Tetapi apabila penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dan dalam jumlah yang berlebihan akan menyebabkan pencemaran tanah dan mengancam kualitasnya. Hal tersebut terjadi karena pupuk kimia merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan anorganik dengan komposisi zat tertentu yang diproses secara kimiawi.

Sebagai usaha dasar untuk mengurangi dampak penggunaan pupuk kimia yaitu mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan karena berasal dari pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia yang dapat terurai serta dapat memperbaiki struktur tanah dan menjaga populasi mikroorganisme tanah sehingga tingkat kualitas tanah tetap dapat terjaga dalam jangka waktu yang panjang.

3.  Pengolahan Tanah yang Tepat untuk Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur adalah suatu teknik pada bidang pertanian yang dilakukan dengan melakukan penanaman satu jenis tumbuhan pada suatu lahan dalam jangka waktu tertentu atau mungkin sesuai dengan umur tanaman. Jika pertanian monokultur tersebut dilakukan secara terus-menerus tanpa adanya pengolahan tanah yang tepat, tentu akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kualitas kesuburan tanah.

Lahan yang ditanami dengan satu jenis tumbuhan akan cenderung bersifat mengurangi keanekaragaman hayati yang terdapat pada lahan tersebut dan juga mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Sehingga, salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan rotasi tanaman. Misalnya pada kasus suatu lahan yang biasanya hanya ditanami dengan padi, pada musim kemarau dapat dilakukan pergiliran tanaman dengan melakukan penanaman tanaman palawija atau tanaman yang memiliki kemampuan dalam mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan dari bakteri Rhizobium. Sehingga, jumlah ketersediaan unsur hara pada lahan tersebut tetap dapat terjaga dengan baik tanpa menambahkan pupuk kimia yang berbahaya bagi kesuburan tanah.

4.  Daur Ulang Sampah yang Sulit Terurai

Plastik, kaca, serta logam merupakan segelintir contoh dari sekian banyaknya jenis sampah yang sulit terurai di tanah dan memiliki potensi yang besar untuk mengganggu tingkat kesuburan tanah. Walaupun memang mikroorganisme juga mampu menguraikan sampah tersebut, tetapi perlu waktu yang lama untuk benar-benar menguraikan senyawa kompleks yang ada di dalam sampah-sampah tersebut secara sempurna. Solusinya adalah membiasakan diri melakukan kebiasaan baik dengan memilah sampah atau memisahkan sampah berdasarkan sifatnya yang mudah atau sulit terurai. Selain itu, dengan melakukan daur ulang pada sampah tersebut, dapat melatih kreativitas untuk menghasilkan sampah menjadi produk yang berguna seperti pada gambar berikut ini. Keuntungan dari melakukan daur ulang sampah ini, selain membantu menjaga bumi yang tercinta agar tetap terus lestari tetapi juga dapat memberi kemampuan baru dalam mengubah barang sisa menjadi hasil karya inovatif yang memiliki nilai guna, estetika, serta ekonomis yang tinggi.